Assalamu'alaikum wr. wb " Kami Pengurus mengajak kepada bapak/ibu/saudara donatur/pembaca blogpanti yang ingin berinvestasi akhirat utk pembebasan tanah panti permeter : 250.000.yang masih kurang 35 juta.jika berminat hbg bendahara Hj,sri Murtini :081328838320/0274 773720/774230/langsung transfer ke no.rekening panti BRI cab.wates no.0152.01.003706-50-5 Cq H.Anwarudin. semoga menjadi sebab-sebab kemudahan dan khusnulkhotimah

Kamis, 18 Februari 2010

POLEMIK KAWIN SIRRI

Oleh : Tohari bin Misro

Pada saat ini sedang hot Polemik “kawin sirri “ di masyarakat indonesia. Masyarakat memandang perkawinan sirri dengan konotasi yang kurang baik, apalagi yang menjalankannya para artis, lantas bagaimanakah kawin sirri itu sebenarnya ??!
Adapu disini, kami ingin menyampaikan pengertian nikah sirri dalam perspektif ulama fiqh. Menurut pengertian mereka, nikah sirri ialah pernikahan yang ditutup-tutupi. Ia berasal dari kata as-sirru yang bermakna rahasi.
Allah Subhanahu wata’ala berfirman:
“Dalam pada itu janganlah kamu mengadakan janji kawin dengan mereka secara rahasia. (Qs Al-Baqoroh/2:235).
Pernikahan sirri juga di definisikan sebagai pernikahan yang di wasiatkan untuk di sembunyikan tidak di umumkan. Oleh karena itu, kawin sirri adalah pernikahan yang dirahasiakan dan ditutupi, serta tidak disebarluaskan.
Menurut pandangan ulama, nikah sirri terbagi menjadi dua.
Pertama :
Dilangsungkannya pernikahan suami istri tanpa kehadiran wali dan saksi-saksi, atau hanya di hadiri wali tanpa di ketahui oleh saksi-saksi. Kemudian pihak-pihak yang hadir (suami-istri dan wali) menyepakati untuk menyembunyikan pernikahan tersebut.
Menurut pandangan seluruh ulama fiqh, pernikahan yang dilaksanakan seperti ini batil. Lantaran tidak memenuhi syarat pernikahan. Seperti keberadaan wali dan saksi-saksi. Ini bahkan termasuk siffah (perzinaan) atau ittikhadzul-akhdan (menjadikan wanita atau lelaki sebagai piaraan untuk pemuas nafsu), sebagaimana di singgung dalam firman Allah subhanahu wa ta’ala :
“Bukan pezina dan bukan (pula) wanita yang mengambil laki-laki lain sebagai piaraannya…(Qs an-Nisa’/4:25)
Adapun bila dua saksi telah berada di tengah acara, menyertai mempelai lelaki dan perempuan, sementara itu pihak wali belum hadir, kemudian mereka bersepakat untuk menutupi pernikahan dari telinga wali dan masyarakat, ini juga termasuk pernikahan sirri yang batil. Karena tidak memenuhi syarat mengenai keberadaan wali.
Kedua :
Pernikahan terlaksana dengan syarat-syarat dan rukun-rukun yang terpenuhi, seperti ijab, qabul, wali dan saksi-saksi. Akan tetapi mereka (suami, isti wali dan saksi) satu kata untk merahasiakan pernikahan ini dari telinga mayarakat atau sejumlah orang. Dalam hal ini, sering kita pihak mempelai lelakilah yang berpesan supaya dua saksi menutup rapat-rapat berita mengenai pernikahan yang terjadi.
Dalam masalah ini, para ulama rohimahullah.berselisih pendapat. Jumhur ulama rohimahullah memandang pernikahan seperti ini sah, tetapi hukumnya dilarang. Hukumnya sah, resmi menurut agama, karena sudah memenuhi rukun-rukun dan syarat-syarat di sertai keberadaan dua saksi sehingga unsur “kerahasiaannya” hilang. Sebab suatu perkara yang rahasia, jika telah di hadiri dua orang atau lebih, maka sudah bukan rahasia lagi.
Adapun sisi pelarangannya, di sebabkan adanya perintah Rosulullah sholallahualaihiwasallam, untuk walimah dan unsur yang berpotensi mengundang keragu-raguan dan tuduhan tidak benar (seperti kumpul kebo umpamanya) pada keduanya.
Sedangkan kalangan ulama malikiyyah Rohimahullah menilai pernikahan yang seperti ini batil, karena maksud dari perintah untuk menyelenggarakan pernikahan adalah pemberitahuan, dan ini termasuk syarat sah pernikahan.
Pendapat yang rajih (kuat), nikah ini sah, lantaran syarat-syarat dan rukun-rukunnya telah terpenuhi, walaupun tidak di beritahukan kepada khalayak. Sebab kehadiran wali dan dua saksi telah merubah sifat kerahasiaan menjadi suatu yang di ketahui oleh umum. Semakin banyak yang mengetahui, maka semakin afdhol. Oleh karena itu, di makruhkan merahasiakan pernikahan supaya pasangan itu tidak mendapat gunjingan dan tuduhan tidak sedap, ataupun persangkaan-persangkaan yang buruk.
Sementara itu dalam pengertian masyarakat, kawin sirri sering di sebut “menikah di bawah tangan”. Namun, lebih di arahkan pada pernikahan yang tidak menyertakan petugas pencatat nikah ( misalnya KUA) untuk mencatat pernikahan tersebut dalam dokumen negara.
Akibatnya, mempelai berdua tidak mengantongi surat nikah dari pihak yang berwenang. Ditinjau dari kaca mata agama islam, bila rukun-rukun dan syarat-syarat nikah telah terpenuhi, maka pernikahan itu sah secara hukum. Hak-kewajiban suami istri sudah mulai belaku sejak akad nikah yang sah itu.
Akan tetapi, menurut hemat kami mematuhi aturan negara sebuah kewajiban. Apalagi urusan pernikahan, negara mengadopsi hukum islam. Secara adminitratif, kekuatan hukum kawin sirri kurang kuat. Kemungkinan akan menimbulkan dilema dan menyisakan sejumlah permasalahan, cepat atau lambat. Bila di kemudian hari terjadi permasalahan, seperti cerai, atau suami meningal dunia,dengan pernikahan yang tanpa tercatat dalam dokumen resmi, maka menyebabkan posisi wanita dalam masalah ini menjadi lemah, karena ia tidak memegang dokumen pernikahan (surat resmi). Sehingga sangat mungkin statusnya sebagai istri tidak terakui, sebagai akibat dari “kerahasiaan dalam perkawinan mereka”. Bahkan mungkin saja di sebut sebagai wanita simpanan.
Masalah lain yang mungkin muncul, berkaitan dengan akte kelahiran yang keberadaannya cukup penting bila anak-anak akan sekolah. Sementara pihak berwenang tidak akan mengeluarkannya jika kita tidak mampu menunjukkan surat perkawinan yang resmi yang di keluarkan negara. Demikianlah dalam kontek kewarganegaraan, setiap warganegara semestimya mentaati peraturan atau ketentuan negara, selama tidak mengajak kepada maksiat, atau pertentangan kepada hukum Allah Subhanahu wata’alla.
Secara singkat dapat kita simpulkan, kawin sirri, memiliki potensi bahaya yang sangat sangat jelas. Disamping itu dengan menyebarluaskan pernikahan (resmi) maka manfaatnya pun sangat jelas bagi kehidupan keluarga dan anak-anak di masa depan. Wallahu a’lam.
Maroji’ :
*Tulisan ini diambil dari Ustaduni: Abu Zaidah
Syarhu-Zarqoni ‘Alal-Muwaththo’ (3/188)
At-Ta’arif, hlm 710
Az-Zawajul ‘Urfi, Dr. Ahmad bin Yusuf ad-Duryuyisy, Darul Ashimah, Riyadh, hlm 94-97.
Assunnah-baitunna.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar