Assalamu'alaikum wr. wb " Kami Pengurus mengajak kepada bapak/ibu/saudara donatur/pembaca blogpanti yang ingin berinvestasi akhirat utk pembebasan tanah panti permeter : 250.000.yang masih kurang 35 juta.jika berminat hbg bendahara Hj,sri Murtini :081328838320/0274 773720/774230/langsung transfer ke no.rekening panti BRI cab.wates no.0152.01.003706-50-5 Cq H.Anwarudin. semoga menjadi sebab-sebab kemudahan dan khusnulkhotimah

Minggu, 24 Juni 2012

Hayaatan Thayyibah, Hidup yang Benar-benar Baik
Oleh : Ustdz Abu Umar Abdillah

مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِّن ذَكَرٍ أَوْ أُنثَى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُمْ بِأَحْسَنِ مَاكَانُوا يَعْمَلُونَ
“Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam Keadaan beriman, Maka Sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan Sesungguhnya akan Kami beri Balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (QS an-Nahl 97)
Hayaatan Thayyibah
Hidup yang Benar-benar Baik
Penghidupan yang baik, manusia mana yang tidak memimpikannya? Ia adalah puncak cita-cita setiap insan yang hidup di dunia. Untuk tujuan itu pula manusia berjuang sepanjang umur, mencurahkan sepenuh potensi dan tak jarang harus rela menyabung nyawa. Tapi kehidupan seperti apa yang dianggap baik oleh manusia?
Meski diungkapkan dengan kalimat yang sama, sesungguhnya persepsi manusia tentang makna penghidupan yang baik itu sangat beragam dan berbeda-beda. Perbedaan itu pula yang menyebabkan manusia berbeda cara untuk meraihnya, juga berlainan jalan yang ditempuhnya.
Yang paling umum, kehidupan yang baik diartikan sebagai hidup mapan secara ekonomi, anggota keluarga yang komplit, juga tempat timggal dan kendaraan yang nyaman, serta unsur lain yang bersifat materi. Memang, semua itu bisa saja melengkapi nilai sebuah kehidupan yang baik. Namun ada yang lebih inti, yang mesti ada untuk disebut sebagai hayaatan thayyibah, atau kehidupan yang baik.
Hidup Dengan Rizki yang Halal
Allah menjanjikan ganjaran bagi orang yang beriman dan beramal shalih, berupa kehidupan yang baik. Imam al-Qurthubi mengumpulkan pendapat para ulama tafsir tentang makna hayaatan thayyibah (kehidupan yang baik), ketika beliau menafsirkan firman Allah dalam Surat an-Nahl di atas.
Pertama, kehidupan yang baik bermakna rizqun halaalun, rizki yang halal. Beliau mengalamatkan pendapat ini kepada Ibnu Abbas, Sa’id bin Jubeir, Atha’ dan juga adh-Dhahak. Rizki yang halal akan mendatangkan ketenangan hati. Tenang saat mencari, nyaman pula tatkala membelanjakannya. Tak ada was-was, khawatir atau perasaan bersalah. Karena dia hanya mengambil yang dihalalkan oleh Allah, tidak pula merenggut apa yang menjadi hak orang lain.
Allah juga akan memberkahi rejeki yang didapat dengan cara yang halal. Sedangkan makna berkah adalah wujudnya pengaruh baik pada sesuatu. Yang sedikit bisa menjadi banyak, yang banyak juga mendatangkan maslahat. Dan berkah yang paling utama adalah menggunakan rejeki untuk taat kepada Allah.
Keberkahan itu terkadang berujud kemudahan urusan, anak istri yang berbakti, kedamaian di hati anggota keluarga dan hal-hal lain yang merupakan unsur-unsur kebahagiaan.
Berbeda dengan orang yang mendapat rejeki dari yang haram. Siksa hati di dunia telah mendera, sebelum merasakan siksa berta di akhirat. Kecuali jika dia bertaubat atau Allah berkehendak mengampuni kesalahannya.
Mereka yang mendapatkan rejeki dengan cara korupsi, mencuri, menipu timbangan, atau cara-rara haram yang lain, didera oleh was-was dan kekhawatiran yang berkepanjangan. Mereka takut saat mengambil, juga khawatir tatkala mengelola hasil. Keberkahan juga akan dicabut dari apa yang mereka dapatkan. Banyaknya harta tidak bermanfaat, tingginya jabatan tak membuatnya tenteram, dan harta yang dibelanjakannya hanya mendatangkan masalah dan problem yang sulit dipecahkan.
Qana’ah Atas Anugerah yang Allah Berikan
Makna kedua dari kehidupan yang baik adalah al-qana’ah. Ini adalah pendapat Hasan al-Bashri, Zaid bin Wahab, bin Munabih dan bahkan Ali bin Abi Thalib RDL. Sedangkan makna qana’ah adalah ridha bil qismi, ridha atas pembagian yang telah Allah anugerahkan. Tak diragukan, bahwa qana’ah akan membawa ketenteraman dan kebahagiaan hidup. Nabi SAW menyebut orang yang qana’ah sebagai orang yang beruntung, maka jelaslah bahwa hidup yang dijalani dengan qana’ah adalah kehidupan yang baik. Nabi SAW bersabda,
قَدْ أَفْلَحَ مَنْ أَسْلَمَ وَرُزِقَ كَفَافًا وَقَنَّعَهُ اللَّهُ بِمَا آتَاهُ
“Sungguh beruntung, orang yang telah berislam, diberi rejeki yang cukup, lalu Allah menjadikannya qana’ah atas apa yang Dia karuniakan kepadanya.” (HR Muslim)
Tak setiap manusia yang dikarunia harta melimpah lantas puas dan ridha dengan apa yang didapatkan. Hati yang tidak qana’ah, akan terus panas terbakar oleh provokasi nafsu yang tak kenal puas. Bak minum air laut, yang tak hilang dahaga karenanya. Seandainya diberikan kepadanya satu ladang emas, niscaya dia akan mencari ladang yang kedua. Dan inilah hakikat kefakiran yang sebenarnya.
Taufik untuk Menjalankan Ketaatan
Makna ketiga adalah taufiiq ila ath-thaa’aat, anugerah taufik atau kekuatan untuk bisa menjalankan ketaatan kepada Allah. Ini juga menjadi salah satu pendapat adh-Dhahak. Beliau juga berkata, “Barangsiapa yang beramal shalih sedangkan dia beriman dalam kondisi susah dan mudah, maka kehidupannya adalah kehidupan yang baik. Dan barangsiapa yang berpaling dari berdzikir kepada-Nya dan tidak beriman kepada Rabbnya, tidak beramal shalih, maka kehidupannya adalah kehidupan yang sempit, tak ada kebaikan di dalamnya.”
Telah di-nash oleh Allah bahwa “innal abraara lafii na’iim, wa innal fujjaara lafii jahiim”, sungguh orang yang berbakti itu akan beroleh kenikmatan, dan sesungguhnya orang yang fajir itu akan beroleh jahim (kesengsaraan). Kenikmatan maupun kesengsaraan yang dimaksud bukan sebatas kenikmatan jannah atau penderitaan di neraka saja, tapi juga di dunia, di alam barzakh, dan di daarul qarar (jannah atau neraka), seperti yang dijelaskan oleh Ibnu Qayyim al-Jauziyah dalam kitab al-Jawaabul Kaafi.
Maka barangsiapa yang mencari kenikmatan yang bukan dalam ketaatan kepada-Nya, niscaya akan dihukum dengan kesengsaraan hati di dunia, diombang-ambing oleh nafsu yang kebingungan mencari klimaks kenikmatan.
Makna Lain yang Melengkapi
Pendapat keempat, Mujahid, Qatadah dan Ibnu Zaid berkata, “Maksud kehidupan yang baik adalah jannah.” Inia adalah pendapat Hasan al-Bashri. Beliau berkata, “Tidak ada kehidupan yang lebih baik dari kehidupan di jannah. Memang begitulah adanya. Jannah adalah kehidupan yang baik. Terkumpul di dalamnya kenikmatan yang tak terkurangi sedikitpun takarannya. Juga disingkirkan atas mereka segala perkara yang menyusahkan atau sekedar mengurangi rasa nyaman. Terkumpul di dalamnya, antara keridhaan ar-Rahman dengan nafsu yang terpuaskan. Allah berfirman,
“Kamilah pelindung-pelindungmu dalam kehidupan dunia dan akhirat; di dalamnya kamu memperoleh apa yang kamu inginkan dan memperoleh (pula) di dalamnya apa yang kamu minta.” (QS. Fushilat: 31)
Masih ada lagi makna lain yang disebutkan oleh para ulama yang masing-masing tidak saling bertentangan, dan bahkan saling menguatkan satu sama lain. Orang yang beriman dan beramal shalih akan mendapatkan kehidupan yang baik dengan segala pengertian di atas. Karena itu, Ibnu Katsier RHM berkata setelah menyebutkan berbagai pendapat para ulama tentang makna kehidupan yang baik, “Yang benar, bahwa makna kehidupan yang baik mencakup semua pengertian di atas..”
Semoga Allah menganugerahkan kepada kita, kehidupan yang baik di dunia, di alam bazakh di di jannahnya yang abadi. Amein. (Abu Umar Abdillah)
15 Wanita Ahli Surga Dan Ciri-Cirinya

Setiap insan tentunya mendambakan kenikmatan yang paling tinggi dan abadi. Kenikmatan itu adalah Surga. Di dalamnya terdapat bejana-bejana dari emas dan perak, istana yang megah dengan dihiasi beragam permata, dan berbagai macam kenikmatan lainnya yang tidak pernah terlihat oleh mata, terdengar oleh telinga, dan terbetik di hati.
Dalam Al Qur’an banyak sekali ayat-ayat yang menggambarkan kenikmatan-kenikmatan Surga. Diantaranya Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :
مَثَلُ الْجَنَّةِ الَّتِي وُعِدَ الْمُتَّقُونَ فِيهَا أَنْهَارٌ مِنْ مَاءٍ غَيْرِ آَسِنٍ وَأَنْهَارٌ مِنْ لَبَنٍ لَمْ يَتَغَيَّرْ طَعْمُهُ وَأَنْهَارٌ مِنْ خَمْرٍ لَذَّةٍ لِلشَّارِبِينَ وَأَنْهَارٌ مِنْ عَسَلٍ مُصَفًّى وَلَهُمْ فِيهَا مِنْ كُلِّ الثَّمَرَاتِ وَمَغْفِرَةٌ مِنْ رَبِّهِمْ كَمَنْ هُوَ خَالِدٌ فِي النَّارِ وَسُقُوا مَاءً حَمِيمًا فَقَطَّعَ أَمْعَاءَهُمْ
“(Apakah) perumpamaan (penghuni) Surga yang dijanjikan kepada orang-orang bertakwa yang di dalamnya ada sungai-sungai dari air yang tidak berubah rasa dan baunya, sungai-sungai dari air susu yang tidak berubah rasanya, sungai-sungai dari khamr (arak) yang lezat rasanya bagi peminumnya, dan sungai-sungai dari madu yang disaring dan mereka memperoleh di dalamnya segala macam buah-buahan dan ampunan dari Rabb mereka sama dengan orang yang kekal dalam neraka dan diberi minuman dengan air yang mendidih sehingga memotong-motong ususnya?” (QS. Muhammad : 15) sebagaimana Allah juga berfirman dalam (QS. Al Waqiah : 10-21)
Di samping mendapatkan kenikmatan-kenikmatan tersebut, orang-orang yang beriman kepada Allah Tabaraka wa Ta’ala kelak akan mendapatkan pendamping (istri) dari bidadari-bidadari Surga nan rupawan yang banyak dikisahkan dalam ayat-ayat Al Qur’an yang mulia, diantaranya :
“Dan (di dalam Surga itu) ada bidadari-bidadari yang bermata jeli laksana mutiara yang tersimpan baik.” (QS. Al Waqiah : 22-23)
“Dan di dalam Surga-Surga itu ada bidadari-bidadari yang sopan, menundukkan pandangannya, tidak pernah disentuh oleh manusia sebelum mereka (penghuni-penghuni Surga yang menjadi suami mereka) dan tidak pula oleh jin.” (QS. Ar Rahman : 56)
“Seakan-akan bidadari itu permata yakut dan marjan.” (QS. Ar Rahman : 58)
“Sesungguhnya Kami menciptakan mereka (bidadari-bidadari) dengan langsung dan Kami jadikan mereka gadis-gadis perawan penuh cinta lagi sebaya umurnya.” (QS. Al Waqiah : 35-37)
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam menggambarkan keutamaan-keutamaan wanita penduduk Surga dalam sabda beliau :“ … seandainya salah seorang wanita penduduk Surga menengok penduduk bumi niscaya dia akan menyinari antara keduanya (penduduk Surga dan penduduk bumi) dan akan memenuhinya bau wangi-wangian. Dan setengah dari kerudung wanita Surga yang ada di kepalanya itu lebih baik daripada dunia dan isinya.” (HR. Bukhari dari Anas bin Malik radliyallahu ‘anhu)
Dalam hadits lain Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda :Sesungguhnya istri-istri penduduk Surga akan memanggil suami-suami mereka dengan suara yang merdu yang tidak pernah didengarkan oleh seorangpun. Diantara yang didendangkan oleh mereka : “Kami adalah wanita-wanita pilihan yang terbaik. Istri-istri kaum yang termulia. Mereka memandang dengan mata yang menyejukkan.” Dan mereka juga mendendangkan : “Kami adalah wanita-wanita yang kekal, tidak akan mati. Kami adalah wanita-wanita yang aman, tidak akan takut. Kami adalah wanita-wanita yang tinggal, tidak akan pergi.” (Shahih Al Jami’ nomor 1557)
Apakah Ciri-Ciri Wanita Surga
Apakah hanya orang-orang beriman dari kalangan laki-laki dan bidadari-bidadari saja yang menjadi penduduk Surga? Bagaimana dengan istri-istri kaum Mukminin di dunia, wanita-wanita penduduk bumi?
Istri-istri kaum Mukminin yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya tersebut akan tetap menjadi pendamping suaminya kelak di Surga dan akan memperoleh kenikmatan yang sama dengan yang diperoleh penduduk Surga lainnya, tentunya sesuai dengan amalnya selama di dunia.
Tentunya setiap wanita Muslimah ingin menjadi ahli Surga. Pada hakikatnya wanita ahli Surga adalah wanita yang taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Seluruh ciri-cirinya merupakan cerminan ketaatan yang dia miliki. Diantara ciri-ciri wanita ahli Surga adalah :
1. Bertakwa.
2. Beriman kepada Allah, Malaikat-Malaikat-Nya, Kitab-Kitab-Nya, Rasul-Rasul-Nya, hari kiamat, dan beriman kepada takdir yang baik maupun yang buruk.
3. Bersaksi bahwa tiada ilah yang berhak disembah kecuali Allah, bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan Rasul-Nya, mendirikan shalat, menunaikan zakat, berpuasa di bulan Ramadlan, dan naik haji bagi yang mampu.
4. Ihsan, yaitu beribadah kepada Allah seakan-akan melihat Allah, jika dia tidak dapat melihat Allah, dia mengetahui bahwa Allah melihat dirinya.
5. Ikhlas beribadah semata-mata kepada Allah, tawakkal kepada Allah, mencintai Allah dan Rasul-Nya, takut terhadap adzab Allah, mengharap rahmat Allah, bertaubat kepada-Nya, dan bersabar atas segala takdir-takdir Allah serta mensyukuri segala kenikmatan yang diberikan kepadanya.
6. Gemar membaca Al Qur’an dan berusaha memahaminya, berdzikir mengingat Allah ketika sendiri atau bersama banyak orang dan berdoa kepada Allah semata.
7. Menghidupkan amar ma’ruf dan nahi mungkar pada keluarga dan masyarakat.
8. Berbuat baik (ihsan) kepada tetangga, anak yatim, fakir miskin, dan seluruh makhluk, serta berbuat baik terhadap hewan ternak yang dia miliki.
9. Menyambung tali persaudaraan terhadap orang yang memutuskannya, memberi kepada orang, menahan pemberian kepada dirinya, dan memaafkan orang yang mendhaliminya.
10. Berinfak, baik ketika lapang maupun dalam keadaan sempit, menahan amarah dan memaafkan manusia.
11. Adil dalam segala perkara dan bersikap adil terhadap seluruh makhluk.
12. Menjaga lisannya dari perkataan dusta, saksi palsu dan menceritakan kejelekan orang lain (ghibah).
13. Menepati janji dan amanah yang diberikan kepadanya.
14. Berbakti kepada kedua orang tua.
15. Menyambung silaturahmi dengan karib kerabatnya, sahabat terdekat dan terjauh.
Demikian beberapa ciri-ciri wanita Ahli Surga yang kami sadur dari kitab Majmu’ Fatawa karya Syaikhul Islam Ibnu Tamiyyah juz 11 halaman 422-423. Ciri-ciri tersebut bukan merupakan suatu batasan tetapi ciri-ciri wanita Ahli Surga seluruhnya masuk dalam kerangka taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Allah Ta’ala berfirman :(QS. An Nisa’ : 13). Wallahu A’lam Bis Shawab.
Perbedaan Antara Jin, Setan dan Iblis

Tema Jin, Setan, dan Iblis masih menyisakan kontroversi hingga kini. Namun yang jelas, eksistensi mereka diakui dalam syariat. Sehingga, jika masih ada dari kalangan muslim yang meragukan keberadaan mereka, teramat pantas jika diragukan keimanannya.

Sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mengutus nabi kita Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan risalah yang umum dan menyeluruh. Tidak hanya untuk kalangan Arab saja namun juga untuk selain Arab. Tidak khusus bagi kaumnya saja, namun bagi umat seluruhnya. Bahkan Allah Subhanahu wa Ta’ala mengutusnya kepada segenap Ats-Tsaqalain: jin dan manusia.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
قُلْ يَاأَيُّهَا النَّاسُ إِنِّي رَسُوْلُ اللهِ إِلَيْكُمْ جَمِيْعًا
“Katakanlah: `Wahai manusia, sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu semua.” (Al-A’raf: 158) Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
وَكَانَ النَّبِيُّ يُبْعَثُ إِلَى قَوْمِهِ خَاصَّةً وَبُعِثْتُ إِلَى النَّاسِ كَافَّةً
“Adalah para nabi itu diutus kepada kaumnya sedang aku diutus kepada seluruh manusia.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim dari Jabir bin Abdillah radhiallahu ‘anhuma) Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman: “Dan ingatlah ketika Kami hadapkan sekumpulan jin kepadamu yang mendengarkan Al-Qur`an. Maka ketika mereka menghadiri pembacaannya lalu mereka berkata: `Diamlah kamu (untuk mendengarkannya)’. Ketika pembacaan telah selesai, mereka kembali kepada kaumnya (untuk) memberi peringatan. Mereka berkata: `Wahai kaum kami, sesungguhnya kami telah mendengarkan kitab (Al-Qur`an) yang telah diturunkan setelah Musa, yang membenarkan kitab-kitab yang sebelumnya lagi memimpin kepada kebenaran dan jalan yang lurus. Wahai kaum kami, terimalah (seruan) orang yang menyeru kepada Allah dan berimanlah kepada-Nya, niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosa kamu dan melepaskan kamu dari azab yang pedih. Dan orang yang tidak menerima (seruan) orang yang menyeru kepada Allah, maka dia tidak akan lepas dari azab Allah di muka bumi dan tidak ada baginya pelindung selain Allah. Mereka itu dalam kesesatan yang nyata’.” (Al-Ahqaf: 29-32)

Semoga makalah yang ringkas ini bisa mencerahkan pemahaman yang salah tentang Jin, Setan dan Iblis dan takut yang tidak pada tempatnya.

1) Jin
Secara etimologis kata al-Jin berasal dari kata janna artinya bersembunyi, tertutup, tidak dikenal (ghair al-ma’hud), tidak terlihat (ghair al-mar’iy). Dinamai al-jin karena tersembunyi dari pandangan manusia. Kata lain yang berasal dari kata janna adalah junnah, artinya perisai, dinamai demikian karena menyembuyikan kepala prajurit yang memakainya; jannah artimya surga atau taman, dinamai demikian taman tersembunyi oleh pohon-pohon rindang; janin artinya jabang bayi, dinamai demikian karena tersembunyi di dalam perut ibu.

Secara terminologis, Jin adalah sebangsa makhluk ghaib (makhluk ruhani, makhluk halus) yang tidak dapat ditangkap oleh indra biasa. Makhluk ini dapat melihat manusia, tetapi sebaliknya manusia tidak dapat melihat mereka dalam bentuk aslinya (QS al-A’raf (7): 27).

Gambaran mengenai jinn dilukiskan al-qur’an dalam beberapa ayat, yaitu jin diciptakan oleh Allah dari api sebelum penciptaan Adam (QS Al-Hijr (15): 26-27, Ar-Rahman (55): 15). Jin memiliki keluarga dan keturunan (QS al-Kahfi (18): 50), dan tugas jin adalah untuk beribadah kepada Allah (QS al-zariyat (51): 56) dengan mengerjakan syari’at agama sebagaimana halnya manusia, sedangkan rasul yang mereka ikuti adalah rasul dari manusia (QS. Al-An’am (6): 130, ar-rahman (55): 31-34, al-Ahqaf (46): 30). Bangsa jin juga ada yang patuh (muslim) dan ada yang durhaka (kafir) kepada Allah swt (QS. Al-Jin (72): 11, 14-15). Ringkasnya jin adalah makhluk ghaib yang diciptakan oleh Allah dari api, mukallaf seperti manusia, diantara mereka ada yang patuh dan ada yang durhaka. Dan yang durhaka pertama kali adalah Iblis dan anak cucunya disebut dengan Jin.

2) Iblis

Sementara kata Iblis menurut sebagaian ahli bahasa berasal dari ablasa yang artinya putus asa. Dinamai iblis karena dia putus asa dari rahmat atau kasih sayang Allah swt. Tatkala Allah swt memerintahkan kepada bangsa Jin untuk sujud kepada Adam bersama dengan para Malaikat, salah satu dari mereka menentang, yang kemudian dikenal dengan jin kafir atau juga Iblis (QS. Al-Baqarah (2): 34, Al-kahfi (18): 50). Namanya disebut sebanyak sebelas kali di dalam al-Qur’an. Sembilan kali di sekitar penciptaan Adam (QS al-Baqarah (2): 34, al-A’raf(7): 11, Ibrahim (15): 31, 32, al-Isra’ (17): 61, al-Kahfi (18): 50, Thaha (20): 116, Shad (38): 74, 75. Satu kali tentang pernyataan Allah bahwa bala tentaranya masuk neraka (QS al-Syura(26): 95), dan satu lagi tentang banyaknya simpatisan dan pengikut Iblis (QS Saba’ (34): 20, 21). Iblis inilah nenek moyang seluruh Syetan, yang seluruhnya selalu durhaka kepada Allah swt dan bertekad untuk menggoda umat manusia (anak cucu adam) mengikuti langkah mereka menentang Allah swt.


3) Syaitan

Terma syetan (diindonesiakan dengan setan) di dalam al-Qura’n terangkum dalam kata as-Syaithan (mufrad, tunggal), as-Syayathin (jamak, plural) dan syayathinihim (dalam bentuk idafah) tercantum sebanyak 68 kali, antara lain: QS 2: 36, 208, 267; QS 3: 175; QS 4: 76, 83, 120; QS 5: 90; QS 6: 43, 68, 142; QS 7:20, 27, 200; QS 8: 11, 48, ; QS 12: 42; QS 15: 17; QS 16: 63; QS 17: 27, 53; QS 22: 52; QS 25: 29; QS 37: 7; QS 38: 41; QS 41: 36; QS 43: 36; QS 47: 25; QS 58: 19; QS 59: 16, dengan persamaan bentuk dan perubahan kata-katanya sebanyak 88 kali. Asy-syaitan berasal dari kata syatana-yasytunu-syatnan menurut bahasa berarti menyalahi dan menjauhi, dan secara khusus al-Syaithan berarti ‘ruh syirr’ “kekuatan jahat” karena ia jauh dari kebaikan (al-khair) dan kebenaran (al-haqq).

Al-qur’an menyatakan bahwa syetan adalah tandingan manusia (QS 2: 168, 208; 7: 22; 12: 5 dll), berarti bahwa manusia adalah tujuan syetan, karenanya ada kemungkinan dapat ditaklukan atau menaklukanya. Manusia bisa bersahabat bahkan berintegrasi dengan syetan yang terwujud dalam penyimpangan yang dilakukan oleh manusia tersebut. Tapi juga manusia bisa beraliansi bahkan wajib bertempur dengan syetan (QS 35: 6).

Dalam pengertian luas, syetan dapat diartikan dengan setiap makhluk yang durhaka dan tidak mau taat kepada Allah, baik dari golongan jin maupun manusia. Syetan juga berarti “kekuatan-kekuatan jahat” baik yang datang dari jin sebagai makhluk halus, maupun yang datang dari kelemahan manusia (QS 6: 112, 41: 29, 114: 6), yang senantiasa menggoda seluruh bidang kehidupan manusia. Syetan pada hakekatnya tidaklah kuat selama manusia sebagai obyek godaan punya keberanian moral dan kewaspadaan dalam menandinginya.

B. Mengenal Langkah-Langkah Dan Golongan Syetan

Al-Quran mengingatkan agar manusia jangan mengikuti langkah-langkah syetan (QS 2: 168, 208; 24: 21), meskipun manusia dapat bahkan banyak terperosok ke dalamnya. Ini mengindikasikan bahw syetan tidak punya kekuasaan memaksa manusia, melainkan hanya semata merayu. Karenanya agar manusia tidak terperosok dalam rayuan dan langkah syetan dan mengerahkan segala kekuatan untuk menghadapi tipu daya dan bujuk rayunya. Adanya perintah untuk berlindung kepada Allah (isti’azah bi Allah) yang terulang sebanyak 11 kali menunjukan perlunya ekstra hati-hati dalam mengenal dan menghadapi syetan.

Percaya akan adanya syetan merupakan bagian dari keyakinan akan adanya makhluk ghaib, yang tidak bisa dilihat secara nyata. Namun, sesuai dengan keberadaan mereka, seperti juga malaikat, harus juga dipercayai adanya. Berbeda dengan malaikat yang dipercayai dan diikuti, syetan dipercayai untuk dihindari, karena mereka merupakan musuh utama manusia. Permusuhan manusia dengan syetan bermula ketika terjadi dialog Tuhan, Adam dan Jin, seperti yang digambarkan dalam QS al-baqarah: 30. Dalam dialog ini Jin tidak mau mengikuti perintah Tuhan untuk sujud kepada Adam, sebagai awal dari pembangkangan jin (yang kemudian menjadi syetan). Sebagai resiko pembangkangan ini syetan memperoleh kutukan Tuhan dan akan kekal di dalam api neraka. Sebagai kemudahan dari Tuhan, syetan diberi kuasa menggoda manusia selama di dunia, sebagai upaya syetan memperoleh teman di dalam neraka, dan sejak inilah permusuhan berkepanjangan dimulai. Di dalam upaya menggoda manusia, syetan bertindak secara langsung dengan memasuki jasad manusia, dan bisa juga secara tidak langsung, dengan menggunakan manusia lain untuk menggoda sesama manusia.

Beroposisi dengan syetan berarti manusia harus senantiasa waspada akan bujuk rayunya yang licin dan menggelincirkan, dengan jalan berlindung kepada Allah, dengan mengenal dan menghindar sekuat tenaga dari langkah-langkah syetan. Sungguh syetan lemah di hadapan orang yang konsisten (istiqamah) di jalan Allah swt. Berikut ini adalah penjelasan tentang langkah-langkah syetan yang perlu diwaspadai, yaitu:

1) Penyesatan

Bisikan (Waswasah). Syaitan membisikan keraguan, kebimbangan dan keinginan untuk melakukan kejahatan ke dalam hati manusia. Bisikan itu dilakukan dengan cara yang sangat halus sehingga manusia tidak menyadarinya. Oleh sebab itu Allah swt memerintahkan kita untuk meminta perlindungan kepada-Nya dari bisikan syaitan tersebut (QS An-Nas (114): 1-6).

Lupa (Nisyan). Lupa memang sesuatu yang manusiawi. Tetapi syaitan berusaha membuat manusia lupa dengan Allah swt, atau paling kurang membuat manusia menjadikan lupa sebagai alasan untuk menutupi kesalahan atau menghindari tanggung jawab (QS Al-An’am (6): 68).

Angan-angan (Tamani). Syaitan berusaha memperdayakan pikiran manusia dengan khayalan yang mustahil terjadi dan dengan angan-angan kosong (QS An-Nisa’ (4): 119), Allah mengingatkan kita akan tekad syaitan untuk membangkitkan angan-angan kosong pada diri manusia (QS An-Nisa (4): 120).

Memandang Baik Perbuatan Maksiat (Tazyin): Syaitan berusaha dengan segala macam cara menutupi keadaan yang sebenarnya sehingga yang batil kelihatan terpuji dan sebagainya. “Iblis berkata: ya Tuhanku, oleh sebab engkau telah memutuskan bahwa aku sesat, pasti aku akan menjadikan mereka memandang baik perbuatan maksiat di muka bumi dan pasti aku akan menyesatkan mereka semuanya. Kecuali hamba-hamba-Mu yang mukhlis di antara mereka”. (QS al-Hijr (15): 39-40).

Janji Palsu (Wa’dun): Syaitan berusaha membujuk umat manusia supaya mau mengikutinya dengan memberikan janji-janji yang menggiurkan yaitu keuntungan yang akan mereka peroleh jika mau menuruti ajakanya. Di akhirat nanti syaitan mengakui bahwa janji-janji yang diberikanya kepada manusia dahulu di dunia adalah janji-janji palsu yang dia pasti tidak mampu menepatinya (QS Ibrahim (14): 22).

Tipu daya (Kaidun): Syaitan berusaha dengan segala macam tipu daya untuk menyesatkan umat manusia. Akan tetapi sebenarnya tipu daya syaitan itu tidak akan ada pengaruhnya bagi orang-orang yang benar-benar beriman kepada Allah swt (QS an-Nisa’(4): 76).

Hambatan (Shaddun): Syaitan berusaha untuk menghalang-halangi umat manusia menjalankan perintah allah swt dengan menggunakn segala macam hambatan. Allah swt mengisahkan dalam QS an-naml bahwa burung Hud-hud melaporkan kepada Nabi sulaiman tentang Ratu Saba dan rakyatnya yang telah dihalangi oleh syaitan dari jalan Allah sehingga mereka tidak mendapat petunjuk: “Aku mendapati dia dan kaumnya menyebah matahari, selain Allah; dan syaitan telah menjadikan mereka memandang indah perbuatan-perbuatan mereka lalu menghalangi mereka dari jalan (Allah), sehingga mereka tidak mendapat petunjuk”. (QS An-Naml (27): 24)

Permusuhan (Adawah): Syaitan berusaha menimbulkan permusuhan dan rasa saling membenci di antara sesama manusia, karena dengan permusuhan itu manusia akan lupa diri dan melakukan hal-hal yang tidak dibenarkan oleh allah untuk membinasakan musuh-musuhnya. Salah satu sebab allah swt melarang minum khamar dan judi adalah karena dengan dua perbuatan itu syaitan akan menimbulkan permusuhan dan saling membenci (QS al-Maidah (5): 91).

2)Menakut-Nakuti

Upaya syetan untuk menggelincirkan manusia dari jalan kebenaran tidak saja dengan tadhliltakhwif (menakut-nakuti). Takut yang dimaksud di sini bukanlah takut tabi’I (alami) seperti takutnya seseorang diterkam binatang buas di hutan belantara. Tetapi takut yang dihadirkan syetan ini adalah takut menyatakan kebenaran, takut mengakan hukum Allah, takut melakukan amar ma’ruf nahi munkar karena khawatir dengan segala resiko dan kosekuensinya. Mislanya, resiko jatuh miskin, kehilangan jabatan, masuk penjara dan lain sebagainya. Allah menyatakan bahwa syetan akan selalu menakut-nakuti manusia pengikutnya: (penyesatan) seperti di atas, akan tetapi juga dengan cara

إِنَّمَا ذَلِكُمُ الشَّيْطَانُ يُخَوِّفُ أَوْلِيَاءَهُ فَلَا تَخَافُوهُمْ وَخَافُونِ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ(175)

“Sesungguhnya mereka itu tidak lain hanyalah syaitan yang menakut-nakuti pengikut-pengikutnya, oleh sebab itu janganlah kamu takut kepada mereka, tetapi takutlah kepadaKu, jika kamu benar-benar orang yang beriman”. (QS ali Imron (3): 175)

bagi orang-orang yang imannya kuat justru semakin ditakut-takuti semakin bertambah semangatnya, makin bertambah imannya. Bagi mereka cukuplah allah yang menjadi jaminan dan menjadi penolong.

“(Yaitu) orang-orang (yang menta`ati Allah dan Rasul) yang kepada mereka ada orang-orang yang mengatakan: "Sesungguhnya manusia telah mengumpulkan pasukan untuk menyerang kamu, karena itu takutlah kepada mereka", maka perkataan itu menambah keimanan mereka dan mereka menjawab: "Cukuplah Allah menjadi Penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik Pelindung." (QS Ali Imron: 173)

Tadhlil dan takhwif tidak hanya dilakukan oleh syetan, tetapi juga oleh manusia para pengikut syetan (sayatinul-insi). Bahkan syayatinul insi lebih berbahaya dari syetan yang sebenarnya, karena manusia pengikut syetan memiliki sarana dan prasarana untuk mewujudkan keinginan, cita-cita syetan secara konkrit. Allah swt berfirman:

وَكَذَلِكَ جَعَلْنَا لِكُلِّ نَبِيٍّ عَدُوًّا شَيَاطِينَ الْإِنْسِ وَالْجِنِّ يُوحِي بَعْضُهُمْ إِلَى بَعْضٍ زُخْرُفَ الْقَوْلِ غُرُورًا وَلَوْ شَاءَ رَبُّكَ مَا فَعَلُوهُ فَذَرْهُمْ وَمَا يَفْتَرُونَ(112)

“Dan demikianlah Kami jadikan bagi tiap-tiap nabi itu musuh, yaitu syaitan-syaitan (dari jenis) manusia dan (dari jenis) jin, sebahagian mereka membisikkan kepada sebahagian yang lain perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu (manusia). Jikalau Tuhanmu menghendaki, niscaya mereka tidak mengerjakannya, maka tinggalkanlah mereka dan apa yang mereka ada-adakan.” (QS Al-An’am(6): 112)

Usaha-Usaha Melawan Syaitan

1. Banyak Berdo'a dan Mendekatkan diri kepada Allah. Rutinkan membaca 3 surat terakhir dari juz 30, ayat qursi tiap selesai sholat dan akan tidur
2. Menjauhi maksiat dan perbuatan munkar
3. Melakukan usaha-usaha penangkalan dengan banyak amal dan perbuatan baik yang nyata
4. Banyak melakukan silaturahmi
5. Dekat dengan dengan orang-orang shalih
=======================
Referensi : Dikutip dari tulisan Al-Ustadz Abu Hamzah Yusuf, judul asli Malaikat, Manusia dan Jin Tidak Dapat Mengetahui yang Ghaib dan Buku Kuliah Aqidah Prof. Dr. Yunahar Ilya Lc.MAg